Bismillah...
ini dari fb nya pluntur teman2...
selamat menikmati...
:)
==================================*****==============================
Sebenarnya apa yang kuderita hari ini. Gelisah mendera tak kunjung berakhir. Tiga cangkir kopi hitam tak lagi kuat menghilangkan perasaan ini. ‘Benci aku pada hari ini”, kalimat yang mungkin setiap menit aku ucapkan dalam hati. Kutanya mengapa harus kopi hitam yang kupilih untuk menemani hariku yang penuh dengan perasaan aneh ini, entahlah….ku juga gak tau kenapa bisa begini. Aku hanya bercermin dari hari sebelumnya, secangkir kopi hitam saja akan membuatku senang. Hmm… baru aku sadari, ternyata temanku yang paling setia hanya kopi saat ini.
Ku pergi ke kamar. Ku pejamkan sejenak mataku ini. Hendak sedikit berfikir dan mengingat apa sebenarnya sedang terjadi padaku. Satu menit, dua menit, tiga, empat, lima, tak juga ketemukan jawabannya.
Tiba-tiba…
Foto kekasihku tercinta jatuh dari meja belajarku, pecahlah bingkai kacanya. Ku hampiri foto itu dank u pandang sebentar lalu aku taruh kembali ke tempatnya walaupaun tanpa kaca. Aku beranjak lagi ke tempat tidurku. Hatiku makin menjadi-jadi. Sebenarnya apa yang terjadi di luar sana, di mana aku tak dapat mejakaunya. Namun ku sadar semua tak harus mungkin, dan bisa jadi saat ini jatahku sedang tak mungkin, ahh…. Andai saja dulu aku ku tolak tawaran itu, mungkin tak akan seperti ini keadaanku. Hanya berkecimpung dengan itu-itu saja. Terbalut oleh keharuman maya. Hingga kopi pun setia menemani. Tidak! Aku tak boleh menyesal. Walaupun aku benci hari ini, namun harapan untuk hari esok aku punya! Ya, aku punya! Aku yakin Alloh akan meluruskan. Bismillah….
“Klothak…klothak…gludhak! Krompyang…cirenggg…blum…gubrakk!!! Awww…!!!!
“Suara apa itu gerangan?”, tanyaku dalam hati.
Oh tidak, tenyata yang aku takutkan terjadi!!!
Gelas kesayangang untuk membuat kopi telah hancur sudah. Dasar bodoh! Kenapa tak ku letakkan di tempat yang aman. Oh… apakah ini pertanda akan terjadi sesuatu yang buruk? Lalau apa yang harus aku lakukan?
Tetaplah tenang. Diam pada apa yang belum boleh terucap. Cukup untaian kata doa menjadi pelipur luka. Meski air mata terus saja membasahi dinding hati. Matahari mana yang tak suka melihat sang bumi terus tumbuh dan menjadi ‘orang besar’. Siapapun pengiringnya, bunga apa yang tumbuh di atas tanahnya, pohon rindang apa yang memperkuatnya, matahari akan tetap terus tersenyum melihat bumi tumbuh dan tumbuh. Dan waktu biar menyimpan rahasianya.
By
O. Pluntur A
M. Putriningtyas
Faidatul H.
Husna A.
Desi F.
